Jumat, 07 Oktober 2016

#SIP_Pengertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

Pengertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

    Informasi adalah pesan atau kumpulan pesan yang terdiri simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi juga dapat didefinisikan sebagai data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang. Sedangkan “Sistem Informasi Psikologi” adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian. Contoh nyata dari pengaplikasian SIP dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIIsIYOT1-vFTBTHYFPkAJn37KN_Sxeqifr-7bNzGc0t5NJ_0K-4pJAUrQ96PSiB0mb8jjuvfMGtFXZGapNPblYwE1h-JtGCaEXiIW4JH42AJ9ukYyOvUSnMCVJ8zjF9c5zu_oyXC6UuSR/s320/psychologybanner.jpg

Komponen sistem informasi  :
1. Hardware (perangkat keras).
2. Software (perangkat lunak).
3. Prosedur : sekumpulan aturan yang dipakai untuk mewujudkan pemrosesan data untuk menghasilkan output.
4. Basisdata : suatu pengorganisasian sekumpulan data yang saling terkait sehingga memudahkan proses pencarian informasi.
5. Jaringan komputer dan komunikasi data.
6. Brainware

Fungsi dari sistem informasi
           
    Sistem informasi memiliki banyak peranan dalam suatu organisasi/institusi/perusahaan diantaranya adalah : turut serta dalam pelaksanaan tugas rutin: mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendalian dalam sistem; mengkoordinasikan subsistem-subsistem; dan mengintegrasikan subsistem-subsistem yang ada. Selain mempunyai banyak peranan sistem informasi juga mempunyai kemampuan yang dimiliki diharapkan dapat meningkat produktivitas, mengurangi biaya-biaya tertentu, meningkatkan servis terhadap konsumen, dan peningkatan dalam pengambilan keputusan.

Fungsi dari sistem informasi psikologi

    Contoh nyata dari pengaplikasian sistem informasi psikologi dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, sistem informasi psikologi yang seperti ini membuat proses yang lebih efektif serta efisien.

Sumber :
Ahmadi, H. & Abu. (2009). Psikologi umum. Jakarta: RINEKA CIPTA.

Basuki, A. M. & Heru. (2008). Psikologi umum. Depok : Universitas Gunadarma.

Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen pemahaman dan aplikasi. Bogor : PT  Grasindo.

Kusrini & Koniyo, A. (2007). Tuntunan praktis membangun sistem informasi akutansi dengan      visual basic & microsoft sql server. Yogyakarta : C.V. Andi Offset.

Maryono, Y. & Istiana, B. P. (2006). Teknologi informasi dan komunikasi. Jakarta : Yudhistira.

Maryono, Y. & Istiana, B. P. (2008). Teknologi informasi dan komunikasi. Jakarta: Yudhistira.








#SIP_Pengertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

Pengertian Informasi dan Sistem Informasi Psikologi

     Informasi adalah pesan atau kumpulan pesan yang terdiri simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi juga dapat didefinisikan sebagai data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang. Sedangkan “Sistem Informasi Psikologi” adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian. Contoh nyata dari pengaplikasian SIP dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIIsIYOT1-vFTBTHYFPkAJn37KN_Sxeqifr-7bNzGc0t5NJ_0K-4pJAUrQ96PSiB0mb8jjuvfMGtFXZGapNPblYwE1h-JtGCaEXiIW4JH42AJ9ukYyOvUSnMCVJ8zjF9c5zu_oyXC6UuSR/s320/psychologybanner.jpg

Komponen sistem informasi  :

1. Hardware (perangkat keras).
2. Software (perangkat lunak).
3. Prosedur : sekumpulan aturan yang dipakai untuk mewujudkan pemrosesan data untuk menghasilkan output.
4. Basisdata : suatu pengorganisasian sekumpulan data yang saling terkait sehingga memudahkan proses pencarian informasi.
5. Jaringan komputer dan komunikasi data.
6. Brainware

Fungsi dari sistem informasi
           
     Sistem informasi memiliki banyak peranan dalam suatu organisasi/institusi/perusahaan diantaranya adalah : turut serta dalam pelaksanaan tugas rutin: mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendalian dalam sistem; mengkoordinasikan subsistem-subsistem; dan mengintegrasikan subsistem-subsistem yang ada. Selain mempunyai banyak peranan sistem informasi juga mempunyai kemampuan yang dimiliki diharapkan dapat meningkat produktivitas, mengurangi biaya-biaya tertentu, meningkatkan servis terhadap konsumen, dan peningkatan dalam pengambilan keputusan.

Fungsi dari sistem informasi psikologi

         Contoh nyata dari pengaplikasian sistem informasi psikologi dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, sistem informasi psikologi yang seperti ini membuat proses yang lebih efektif serta efisien.

Sumber :
Ahmadi, H. & Abu. (2009). Psikologi umum. Jakarta: RINEKA CIPTA.

Basuki, A. M. & Heru. (2008). Psikologi umum. Depok : Universitas Gunadarma.

Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen pemahaman dan aplikasi. Bogor : PT Grasindo.

Kusrini & Koniyo, A. (2007). Tuntunan praktis membangun sistem informasi akutansi dengan      visual basic & microsoft sql server. Yogyakarta : C.V. Andi Offset.

Maryono, Y. & Istiana, B. P. (2006). Teknologi informasi dan komunikasi. Jakarta : Yudhistira.

Maryono, Y. & Istiana, B. P. (2008). Teknologi informasi dan komunikasi. Jakarta: Yudhistira.








#SIP_ETIKA MENULIS ARTIKEL ONLINE

Etika Menulis Artikel Online

         Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan bagaimana etika menulis artikel secara online. Mengapa menulis memerlukan etika ? Tulisan merupakan media untuk mengkomunikasikan gagasan kepada orang. Kesalahpahaman dapat mengakibatkan pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan tidak tercapai. Kesalahpahaman yang sering terjadi, yaitu :
      1. Penempatan tanda baca yang tidak sesuai.
      2. Pemilihan kosa kata yang tidak sesuai.
      3. Kalimat yang tidak efektif. 
      4. Paragraf yang tidak koheren.
      5. Tulisan sulit untuk dicerna.

Tulisan yang harus diperhatikan, yaitu :
      1. Penggunaan titik, koma, dan tanda-tanda baca lainnya.
     2. Rangkaian kalimat yang baik dan teratur, enak dibaca, mudah dipahami oleh pembaca.
     3. Teknik-teknik penulisan antara lain; Kata pembuka dan penutup sesuai proporsi. Mengikuti aturan main penulisan sebagai tulisan ilmiah. Bagian isi lebih dominan dalam tulisan.

Kode etik penulis, yaitu :
      1. Menjunjung tinggi hak, pendapat atau temuan orang lain.
   2. Menyadari sepenuhnya untuk tidak melakukan pelanggaran ilmiah. Pelanggaran tersebut diantaranya; Fabrikasi data, Falsifikasi data, dan Plagiarisme.

Adapun 3 hal penting yang harus diperhatikan tentang etika dan kode etik dalam menulis artikel online adalah sebagai berikut :

      1. Gunakan bahasa yang baik, sopan dan benar
Karena internet tersambung dengan akses yang mencakup seluruh dunia. Dimana artikel atau berita yang kita muat pada internet dapat dibaca oleh siapapun.
      2. Gunakan huruf kapital seperlunya
Karena jika kita menuliskan dengan menggunakan huruf kapital secara dominan, kata yang tertulis pada artikel dapat memiliki arti lain bagi seseorang yang membacanya.
       3. Menggunakan EYD yang sesuai
Karenakan penulisan yang menggunakan EYD yang sesuai dapat memudahkan pembaca untuk mengerti inti dari sebuah tulisan yang kita tulis.

Sumber :
Gafar, A. (2012). Kode Etik Penulis dan Etika Penulisan dalam Artikel Ilmiah.

(2004). Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Rifai, M. A. (2004). Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah         Indonesia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sumadira, H. (2008). Jurnalistik Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.

Toha, I. S. (2001). Teknik dan etika penulisan artikel ilmiah. Bandung : Laboratorium Sistem        Produksi Jurusan Teknik Industri.


Sabtu, 30 April 2016

Teknik – teknik Terapi Humanistik Eksistensial



Teknik – teknik Terapi Humanistik Eksistensial

            Teknik yang digunakan mengikuti alih–alih mendahului pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metode–metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama Meskipun terapi eksistensial bukan merupakan metode tunggal, di kalangan terapis eksistensial dan humanistik ada kesepakatan menyangkut tugas–tugas dan tanggung jawab terapis.
            Psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusia alih–alih sistem teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal – hal berikut (Gerald Corey, 1988) :
a.      Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
b.       Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
c.       Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
d.      Berorientasi pada pertumbuhan.
e.    Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
f.    Mengakui bahwa putusan – putusan dan pilihan – pilihan akhir terletak di tangan klien.
g.     Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
h.     Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
            Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien. Menurut Akhmad Sudrajat teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers, meliputi :
(1) acceptance (penerimaan)
(2) respect (rasa hormat)
(3) understanding (pemahaman)
(4) reassurance (menentramkan hati)
(5) encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas)
(6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan)
(7) memberi dorongan
            Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik; (2) mengambil keputusan yang tepat; (3) mengarahkan diri; (4) mewujudkan dirinya.

Referensi :
Gerald, Corey. 1988. Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung : PT ERESCO

Kamis, 21 April 2016

Terapi Humanistik



Terapi Humanistik

            Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).
            Meskipun tokoh-tokoh  psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world) dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya, dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
            Teori eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam.
            Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan atau teori eksistensial-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.
            Pendekatan eksistensial-humanistik mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada fakta-fakta utama keberadaan manusia – kesadaran diri dan kebebasan yang konsisten.
            Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksistensial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.

Tujuan terapi
            Memiliki tujuan mengembalikan individu kepada pemikiran autentik tentang dirinya. Tanggung jawab personal terhadap diri, perasaan, perilaku, dan pilihan ditekankan. Individu didorong untuk hidup sepenuhnya pada masa kini dan memandang masa depan.

Kelebihan
1. Bersifat pembentukan kepribadian, hai nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena social
2. Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan antaupun masa transisisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa.

Kekurangan
1. Pendekatan ini kurang sistematis pada prinsip-prinsip dan praktek terapi.
2. Beberapa penulis eksistensialisme menggunakan konsep abstrak atau global dan samar-samar. Sulit untuk dipegang.
3. Memiliki keterbatasan penerapan pada kasus level keberfungsian klien yang rendah, klien yang ekstrem yang membutuhkan penanganan secara langsung
4. Proses terapi membutuhkan waktu yang panjang dan ketidakpastian kapan berakhir, berapa jam dan berapa kali pertemuan.

Jumat, 01 April 2016

Teknik - teknik Terapi Psikoanalisis

Teknik - teknik Terapi Psikoanalisis

1. Asosiasi bebas
Terapi asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman - pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi - emosi yg berkaitan dg situasi - situasi traumatik di masa lalu. Pasien secara bebas mengungkapkan segala hal yang ingin dikemukakan, termasuk apa yang selama ini ditekan di alam bawah sadar. Pasien mengungkapkan tanpa dihambat atau dikritik. Namun, ada hal yang menjadi salah satu hambatannya yaitu pasien melakukan mekanisme pertahanan diri saat mengungkapkan hal, sehingga tidak semua hal bisa terungkap. Maka, pasien diminta untuk berbaring di dipan khusus dan psikoanalisnya duduk di belakang. Pasien dan psikoanalis tidak berhadapan langsung, sehingga diharapkan pasien dapat mengungkapkan pikirannya tanpa merasa terganggu, tertahan, atau terhambat oleh terapis. Teknik ini dikembangkan oleh Sigmund Freud setelah mempelajari teknik baru yang telah digunakan oleh teman dan koleganya yakni Dr. Joseph Breuer dalam merawat klien kasus histeria.
Alasan saya menyukai teknik asosiasi bebas karena dalam teknik ini kita hanya mendengarkan cerita masa lalu klien, melihat dan mengenali tanda – tanda yang diungkapkan klien dan kita membimbing klien untuk membantu menemukan jalan keluar masalahnya